Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 01 September 2016

Aku Plinplan

:)

Ternyata tak semudah itu untuk mengakhiri semua.
Khawatir ini haus akan kabarmu.
Jiwa ini penasaran akan cerita barumu.
Aku rindu.
Tak menggebu, tapi pasti.

Tak tahu apa yang harus kuperbuat.
Kau bahkan telah kabulkan pintaku dulu,
   untuk menjauh,
   untuk bahagia tanpaku.

Apa kabar ibumu?
Apa kabar kakak-kakakmu?
Apa kabarmu?
Apa kabar hati yang rentan itu?
Apa kabar jiwa yang berontak itu?
Apa kabar mata yang basah itu?

Aku paham, aku telah menelan ludahku sendiri.

Aku berharap
   semoga ada pecahan rindu yang menancap saat malam insomniamu,
   semoga ada namaku terpikir di salah satu bau segar pagimu,
   semoga ada suaraku tergema di lamunan lelah siangmu.

dari
Aku yang plinplan.

Aku Asing Di MataMu

Merasa asing di tempat baru.
Menjadi kikuk dengan budaya baru.
Mungkin butuh waktu lagi untuk adaptasi?
Mungkin aku tak cocok berada di sini?
Siapa yang harus menyesuaikan? Mereka atau aku?


Tempat baru tak akan bisa menjanjikan keadaan lebih baik.
Bisa jadi lebih baik, lebih buruk, atau keduanya.
Yang aku tahu pasti, tempat baru menjanjikan harapan baru.
Harapan untuk keadaan lebih baik.
Lingkungan yang lebih sehat dan menjadi pribadi yang lebih bernilai.
Pasti lebih baik?
Tidak.
Tapi pasti ada harapan. Itu yang aku imani.

Ketidak tahuan kita akan masa depan membuat manusia menghayal, membayangkan, berharap.
Aku kira itu yang kita butuhkan untuk terus hidup, Harapan dan Tujuan.
Hidup dari harapan satu ke harapan lain.
Harapan adalah bahan bakar untuk terus hidup, paling tidak untuk hidupku.
Ibarat mobil akan terus berjalan jika memiliki bahan bakar dan memiliki tujuan.
Saat bahan bakar habis, maka pengemudi harus mencari depot bahan bakar untuk mobilnya agar sampai ke tujuan.
Jika tidak mendapatkan bahan bakar?
Mobil itu akan diam, tidak bergerak, padahal waktu terus berjalan dan selalu ada tuntutan untuk cepat mencapai tujuan.

Aku mulai khawatir bahan bakarku habis.
Kecewa itu menguapkan harapanku.
Tempat ini fakir harapan.



Seperti mobil itu. Aku diam. Gambaran angan akan kehidupan nyaman memudar.
Aku tak sendiri di mobil ini.
Banyak masa depan tertitip dalam kabin ini. Berharap sampai ke tujuan dengannya.
Tanggung jawab ini berat.
Mungkin aku salah pilih jalan? Semoga tidak.
Atau terlalu banyak penumpang di mobil ini? Tidak. Itu bukan alasan.
Ya Tuhan! Aku Bingung.

Oh ya. Tuhan.
Kenapa aku lupa denganNya?

Mungkin Dia rindu akan tangisku meminta padaNya.
Mungkin Dia cemburu aku terlalu perhatian dengan ciptaanNya, dan bukan denganNya.

Maafkan aku.
Sekarang aku tahu di mana harus mengisi bahan bakar.
Aku tahu ke mana harus berharap untuk tetap hidup.
Tak peduli salah atau benar jalan yang aku lewati, selama dapat bertemu tempat untuk mengisi harapan, paling tidak hidupku masih terus berlanjut.
Sejauh apapun tujuan, terus bergerak adalah sebuah keharusan untuk lebih dekat dengannya.

Aku asing di tempat baru. Aku asing di mataMu.
Aku tahu mana yang harus aku khawatirkan.

Selasa, 19 Januari 2016

I Should Go

Tak akan ada kita, hanya aku, kamu, esok hingga selamanya.
Tak ada lagi, keluhku, nasihatmu, hujanmu, payungku, drama kita.
Tak ada mungkin, andai, semoga, dan kata harapan lain.
Semua harus berakhir malam ini.

Tak ada salah dengan rasa, hanya aku.                              
Tak seharusnya ada awal, maaf.
Aku sadar sejak mula, tapi selalu ada alasan untuk kembali, ke kamu, ke kita.

Aku sayang kamu, bukan kemarin, tapi sekarang, dan selamanya.

Ijinkan aku, untuk yg terakhir, nikmati jarak ini, jarak yg seharusnya tak sedekat ini.

Aku akan menjauh, melepasmu.
Terlalu banyak harapan terlahir, salahku.

Kamu harus bahagia, dengan rasamu, dan tanpa rasaku.
Aku harus pergi.
Maaf.

Dek, I should go.
Sorry.

Surat Terbuka Untuk Bapak Pimpinan

Saya paham atas beban ini, tekanan ini. Bukan ingin bapak juga tugas ini muncul. Tak perlu bapak luapkan amarah berapi-api, cukup jelaskan kondisi ini.

Saya akan mengerjakan apa yg menjadi tugas saya, bukan karena takut dengan rangkaian kata kasar bapak untuk menekan mental saya, saya tak takut. Saya ingin membantu bapak dalam situasi ini sebagai bagian dari tim.

Bukankah kita semua adalah tim?

Sebuah tim besar yg membutuhkan kerja sama setiap bagian dengan job desc masing-masing.

Atau bapak hanya menganggap hubungan kita hanya sebatas pemerintah dan terperintah? 

            
Ah sudahlah, lagipula saya tak pernah menganggapnya perintah. Hanya permintaan tolong dari bagian besar tim pada bagian tim yg lebih kecil, sesuai kapasitasnya.

Salam hangat dari staf bapak.

Pemelihara mesin

Di ujung bawah tangga

Ba'da maghrib, bel masuk istirahat shift 2 memekik. Sudah lebih waktu yang seharusnya untuk staf non shift. Bukan loyalitas, hanya tanggung jawab pekerjaan yang entah dari mana beban itu menimpa kita, kita hanya bersikap profesional untuk apa yang ditugaskan kepada kita. Berlebihan? Banyak orang berpikir begitu, tak terkecuali kita sendiri.
Duduk di ujung bawah tangga selesai ibadah maghrib, sambil memakai kembali sepatu kita. Menghela nafas sejenak mengakhiri beban berat di hari itu. Waktunya meninggalkan dengungan mesin pabrik dan perang mulut di lingkungan kerja. Entah akan langsung pulang ke kamar untuk rehat ataukah melanjutkan kebersamaan ini untuk sekedar brainstorming di restoran cepat saji sekitar daerah kontrakan petak kita. Yang pasti kepala kita penuh masalah.
But after all of that hard day, we are happy as long as we are together.
:)

Jumat, 14 November 2014

Salam kangen, Sahabat!

Dear sahabat,

Hai! ini aku, teman lamamu. Sudah lama sejak terakhir kali kita saling berbagi canda. Tak terasa waktu telah berlalu, membuat pertemanan kita jadi kisah yang indah untuk dikenang. Cerita kita, kebersamaan kita, kebodohan yang kita lakukan, terasa sangat berarti saat ini. Menjadi pembangkit gairah hidup untuk menjalani sisa waktu hidupku. Membuatku bersyukur dengan apa yang aku miliki sekarang, dan menghargai setiap kebersamaan dengan siapapun. Alhamdulillah.

Malam ini, kebuntuan pikiranku menyeretku untuk melihat beberapa foto kita yang tersimpan rapi dalam satu folder khusus di laptop lamaku. Tertuntunku flashback ke masa di mana kita masih sering bertatap muka. Hidup terasa begitu damai, tanpa beban berarti, tak ada kekhawatiran pekerjaan apa yang menunggu esok, hanya terlamun kesenangan apa yang akan kita lakukan esok. Ya Allah, aku rindu saat itu.


Saat ini, waktu kebersamaan kita jadi sangat berharga, bahkan butuh perjuangan cukup sulit untuk sekedar bertemu dan bertukar kabar. Aku tahu, saat ada yang datang, ada juga yang pergi. Tapi, kenangan kita tak tergantikan, aku pastikan hal itu.

Teruntuk kalian, teman, sahabat, saudara, kakak, adik, semoga kangenku tersampai dengan tulisan ini. Besar harapku bisa bertemu kembali dan berbagi cerita, atau sekedar saling tukar senyum. Terima kasih atas pertemanan yang telah kalian beri, terima kasih telah ikut menghiasi hidupku dengan warna idah itu. Terima kasih.


Teman lamamu