Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 19 Januari 2016

I Should Go

Tak akan ada kita, hanya aku, kamu, esok hingga selamanya.
Tak ada lagi, keluhku, nasihatmu, hujanmu, payungku, drama kita.
Tak ada mungkin, andai, semoga, dan kata harapan lain.
Semua harus berakhir malam ini.

Tak ada salah dengan rasa, hanya aku.                              
Tak seharusnya ada awal, maaf.
Aku sadar sejak mula, tapi selalu ada alasan untuk kembali, ke kamu, ke kita.

Aku sayang kamu, bukan kemarin, tapi sekarang, dan selamanya.

Ijinkan aku, untuk yg terakhir, nikmati jarak ini, jarak yg seharusnya tak sedekat ini.

Aku akan menjauh, melepasmu.
Terlalu banyak harapan terlahir, salahku.

Kamu harus bahagia, dengan rasamu, dan tanpa rasaku.
Aku harus pergi.
Maaf.

Dek, I should go.
Sorry.

Surat Terbuka Untuk Bapak Pimpinan

Saya paham atas beban ini, tekanan ini. Bukan ingin bapak juga tugas ini muncul. Tak perlu bapak luapkan amarah berapi-api, cukup jelaskan kondisi ini.

Saya akan mengerjakan apa yg menjadi tugas saya, bukan karena takut dengan rangkaian kata kasar bapak untuk menekan mental saya, saya tak takut. Saya ingin membantu bapak dalam situasi ini sebagai bagian dari tim.

Bukankah kita semua adalah tim?

Sebuah tim besar yg membutuhkan kerja sama setiap bagian dengan job desc masing-masing.

Atau bapak hanya menganggap hubungan kita hanya sebatas pemerintah dan terperintah? 

            
Ah sudahlah, lagipula saya tak pernah menganggapnya perintah. Hanya permintaan tolong dari bagian besar tim pada bagian tim yg lebih kecil, sesuai kapasitasnya.

Salam hangat dari staf bapak.

Pemelihara mesin

Di ujung bawah tangga

Ba'da maghrib, bel masuk istirahat shift 2 memekik. Sudah lebih waktu yang seharusnya untuk staf non shift. Bukan loyalitas, hanya tanggung jawab pekerjaan yang entah dari mana beban itu menimpa kita, kita hanya bersikap profesional untuk apa yang ditugaskan kepada kita. Berlebihan? Banyak orang berpikir begitu, tak terkecuali kita sendiri.
Duduk di ujung bawah tangga selesai ibadah maghrib, sambil memakai kembali sepatu kita. Menghela nafas sejenak mengakhiri beban berat di hari itu. Waktunya meninggalkan dengungan mesin pabrik dan perang mulut di lingkungan kerja. Entah akan langsung pulang ke kamar untuk rehat ataukah melanjutkan kebersamaan ini untuk sekedar brainstorming di restoran cepat saji sekitar daerah kontrakan petak kita. Yang pasti kepala kita penuh masalah.
But after all of that hard day, we are happy as long as we are together.
:)